Banyak faktor yang membuat karywan tidak betah bekerja di perusahaan tempat dia bekerja. Selain teman yang toxic, atasan atau bos toxic juga ada loh.
Dikutip dari Forbes, bos toxic adalah atasan atau pemimpin yang mementingkan keinginan pribadi dan memiliki perilaku disfungsional untuk menipu, mengintimidasi, memaksa, atau menghukum secara tidak adil kepada karyawannya. Sikap negatif tersebut berimbas buruk terhadap karyawan, organisasi, dan kinerja perusahaan.
Bahkan di beberapa kasus, CEO atau pendirinya lah yang membuat budaya perusahaan menjadi toxic. Sehingga menyebabkan tingkat turnover rate yang tinggi, karena banyak karyawan yang keluar-masuk dalam kurun waktu yang cukup singkat.
Tanda-Tanda Bos dan Perusahaan Toxic Perlu Dihindari
Agar kamu tidak terjerumus ke dalam perusahaan dan bos yang toxic, kenali ciri-cirinya sebagai berikut:
Hanya Memikirkan Keuntungan dan Kenaikan Positif
Ciri bos dan perusahaan toxic biasanya hanya memikirkan profit dan pertumbuhan eksponensial (exponential growth), tanpa memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan karyawannya. Kasus ini kerap terjadi pada perusahaan rintisan atau startup yang masih minim dana (seed stage), dan hanya mengandalkan dari inverstor semata.
Umumnya, karyawan selalu dituntut untuk bekerja melebih jam kerja normal tanpa memberikan insentif yang layak. Bahkan, lebih parahnya lagi tanggal gajian bisa mundur sampai bulan depan.
Tidak Memiliki Empati
Beda halnya dengan seorang leader, yang mampu memberikan contoh dan memiliki rasa empati terhadap bawahannya. Bos yang toxic, tidak memiliki kedua hal itu. Dia hanya bisa memberi tugas, tanpa mengetahui keadaan realitanya seperti apa, dan tidak melihat usaha dari karyawannya.
Bos toxic tidak memilki rasa empati dan mengayomi karyawannya. Hanya melihat hasil dan tanpa melihat proses. Bisa jadi bawahnnya telah melakukan yang terbaik, namun mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugasnya.
Pada akhirnya, dia tidak segan memecat karyawannya tanpa memberikan uang pesangon yang layak. Nah, itu adalah contoh kepemimpinan yang kurang baik dan sebaiknya kamu menghindari di perusahaan yang toxic seperti itu.
Demanding Tapi Minim Support
Ciri bos toxic lainnya, yaitu demanding atau banyak maunya. Pokoknya segala pekerjaan harus diselesaiakan dengan cepat dan memiliki hasil yang bagus namun minim support. Seperti tidak memberikan arahan yang jelas, tidak memberikan tambahan budget, tidak memikirkan workload karyawan, dll.
Micromanaging dan Tidak Memberikan Kepercayaan
Hal yang wajar jika seorang atasan mendelegasikan tugas kepada bawahannya, namun hal itu bisa menjadi toxic jika caranya salah. Karena mendelegasikan pekerjaan tanpa memberikan kepercayaan adalah salah satu ciri pemimpin yang toxic.
Ketika seorang atasan tidak mempercayai bawahannya untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka, hal ini cenderung mengarah pada gaya kepemimpinan yang berlebihan dalam mengawasi dan mengendalikan, yang dikenal sebagai micromanagement.
Istilah awamnya, micromanagement ini bisa digambarkan sebagai sikap seorang atasan yang “tukang ngatur” dan tidak menerima masukan.
Padahal, praktik micromanagement ini dapat menciptakan ketegangan dan stres di lingkungan kerja, karena karyawan merasa terus-menerus ditekan dan kurang mendapat kepercayaan.
Karyawan juga tidak diberi kesempatan untuk mengambil inisiatif, menyampaikan pendapat, atau menunjukkan potensi mereka, sehingga sulit bagi mereka untuk berkembang.
Dampaknya, budaya kerja yang didominasi oleh keinginan untuk memenuhi keinginan bos menjadi tumbuh dan tercipta di lingkungan kerja atau dikenal “asal bos senang”.
Berbohong atau Ingkar Janji
Bos yang toxic dicirikan dengan perkatannya yang suka berbohong atau sengaja lupa dengan apa yang dia janjikan pada karyawannya. Contoh kebohongan ini misalnya, pada saat proses rekrutmen kita dijanjikan bonus per quartal dan tahunan, asuransi swasta yang mengkover keluarga, dan lainnya.
Namun, pada saat kita sudah bergabung di perusahaannya, benefit yang dia janjikan tidak pernah terjadi. Ketika kita tanyakan pasti banyak alasannya. Nah, jika kamu mengalami hal ini, fix kamu harus resign dan cari perusahaan yang lebih baik.
Intimidasi dan Membuat Karyawan Takut
Ciri-ciri bos atau CEO toxic lainnya, yaitu perilaku intimidasi dan memberikan rasa takut pada karyawan. Perasaan takut ini terjadi ketika seorang bos sering memperlihatkan kekecewaannya secara publik dan tidak segan menegur karyawannya dengan nada negatif tanpa memberikan feedback atau solusi yang baik.
Sehingga perasaan takut ini akan selalu terjadi saat kita bertemu dengan dia, misalnya saat meeting atau berpapasan. Selain itu, kamu juga bisa bertanya langsung kepada teman kantor kamu, pastikan kamu sudah dekat dengan dia, sehingga dia mau berbagi keluh kesahnya dengan kamu.
Keputusan berubah-ubah tanpa peduli dampaknya pada tim
Dilansir dari Kompas.com, atasan yang toxic sering sering kali mengambil keputusan yang berubah-ubah tanpa memperhatikan dampaknya pada kinerja tim. Mereka juga cenderung mudah mengubah keputusan tanpa mempertimbangkan konsekuensinya bagi bawahannya.
Hal ini dapat menimbulkan kecemasan yang signifikan di dalam tim, karena anggota tim tidak tahu apa yang diharapkan dari mereka. Awalnya mungkin mereka dapat mengatasi situasi tersebut, tetapi jika ini menjadi suatu kebiasaan yang terus-menerus, karyawan akan selalu merasa gelisah dan tidak yakin tentang tindakan yang seharusnya mereka lakukan.
Jika kamu mempunyai atasan seperti ini, hati-hati itu red flag ya!
Maka dari itu, sebelum kamu menerima penawaran dari perusahaan baru, pastikan kamu mengecek review-nya terlebih dahulu. Kamu bisa mengeceknya di Glassdoor atau forum pencarian kerja lainnya. Akan lebih valid jika kamu menanyakan langsung kepada teman atau ex-karyawan di perusahaan tersebut.
Pastikan juga, perusahaan atau startup tersebut memiliki sumber pendanaan dan laporan keuangan yang jelas. Untuk perusahaan rintisan seperti startup, kamu bisa mengeceknya di Crunchbase.com.
Jika menurut kamu artikel ini bermanfaat, silakan follow Media62 di:





